SEJARAH KERAJAAN KOEBOE KALIMANTAN BARAT BERASAL SEORANG ULAMA DARI HADRAMAUT YAMAN SELATAN

Oplus_131072
Sejarah Kerajaan Kubu: Jejak Ulama Hadramaut yang Menjadi Raja dan Benteng Perlawanan di Kalimantan Barat

Bekasi Lensa Pemburu News— Sejarah Kerajaan Kubu di Kalimantan Barat menyimpan perjalanan panjang yang berakar pada kedatangan seorang ulama dari Hadramaut, Yaman Selatan. Dari penyebaran agama Islam, garis keturunan ini kemudian mewarisi kekuasaan kerajaan secara turun-temurun hingga kini. Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Pangeran Pawang Negara Rais Iskandar, yang memperkenalkan dirinya sebagai keturunan keenam Raja Kubu sekaligus Panglima Besar Kerajaan Kubu, Kerajaan Ambawang, dan Kerajaan Kertamulia.

Dalam penuturannya bersama awak media di Kota Bekasi, Pangeran Rais Iskandar membuka lembaran sejarah, silsilah, serta perjalanan Kerajaan Kubu yang menurutnya belum banyak diketahui masyarakat luas.

 

Berawal dari Ulama dari Tanah Yaman

Menurut Rais, sejarah Kerajaan Kubu bermula dari seorang ulama bernama Sayid Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus, yang berasal dari kota Tarim, wilayah Hadramaut, Yaman Selatan. Beliau datang ke Nusantara bersama sepupunya, Sayid Husin bin Abu Bakar Al-Idrus, yang kelak dikenal masyarakat luas sebagai Keramat Luar Batang.

Keduanya pertama kali tiba di Batavia (sekarang Jakarta). Sayid Idrus kemudian menetap dan menikah dengan seorang perempuan bernama Sharifa Ullawa, seorang putri dari tanah Betawi. Dari perkawinan itu lahir dua orang anak: Sayid Muhammad Al-Idrus dan Abdurrahman.

Perjalanan dakwah Sayid Idrus kemudian berlanjut ke Palembang, setelah menerima undangan dari Sultan Mahmud Badaruddin I yang bergelar Sultan Candiwalang. Di Palembang, beliau diangkat menjadi mufti atau ahli hukum agama Kesultanan, dan menikah dengan putri Sultan, Ratu Kimasindi. Dari perkawinan ini lahir pula dua orang anak, yaitu Saripa Muzayana dan Sayid Alwi Al-Idrus — yang kelak dipercaya menjabat sebagai mufti di lingkungan Kesultanan Yogyakarta.

 

Dari Ulama Menjadi Raja: “Kubu Artinya Benteng”

Langkah Sayid Idrus kemudian berlanjut menuju Kalimantan. Di sana beliau bertemu dengan Sayid Hussein bin Ahmad Jamalulail, yang memiliki hubungan erat dengan lingkungan Kerajaan Mempawah.

“Awalnya beliau bukan seorang raja, melainkan seorang ulama yang menyebarkan agama Islam. Setelah pengaruh dan kepercayaan masyarakat berkembang luas, akhirnya beliau diangkat menjadi raja,” tutur Rais.

Sayid Idrus kemudian dikenal dengan gelar Tuan Besar Raja Kubu. Terkait nama “Kubu”, Rais menjelaskan maknanya sebagai benteng atau pertahanan. Nama ini dipilih karena Kerajaan Kubu pada masa itu menjadi salah satu kekuatan yang berdiri tegak menahan laju pengaruh dan kedatangan kekuasaan kolonial Belanda di wilayah Kalimantan Barat.

“Beliau disebut Raja Kubu. Kubu itu artinya benteng. Memang kerajaan itu menjadi benteng untuk menahan lajunya Belanda,” tegas Rais.

 

Enam Raja dan Silsilah yang Terjaga

Kepemimpinan Kerajaan Kubu kemudian diteruskan secara turun-temurun. Berikut urutan raja-raja menurut silsilah yang disampaikan Rais:

1. Sayid Idrus Al-Idrus — Raja pertama dan pendiri

2. Sayid Muhammad Al-Idrus — Anak dari Sayid Idrus

3. Sayid Abdurrahman Al-Idrus

4. Ismail Al-Idrus

5. Hasan Al-Idrus

6. Tuanku Sharif Abbas Al-Idrus — Raja keenam dan terakhir yang memegang kekuasaan politik kerajaan

Setelah masa tersebut, seiring berjalannya waktu dan masuknya pemerintahan kolonial, Kerajaan Kubu mengalami perubahan bentuk dan fungsi. Namun Rais menegaskan, berakhirnya kekuasaan politik kerajaan tidak berarti hilangnya garis keturunan, adat istiadat, budaya, serta nilai-nilai yang diwariskan para leluhur.

 

Hubungan Tiga Kerajaan: Kubu, Ambawang, dan Kertamulia

Pangeran Rais Iskandar juga menjelaskan hubungan kekeluargaan yang menyatukan tiga kerajaan di Kalimantan Barat: Kerajaan Kubu, Kerajaan Ambawang, dan Kerajaan Kertamulia.

“Kalau Kerajaan Kubu ini dari garis bapak, sedangkan Kerajaan Ambawang dari garis anak. Kakek saya merupakan Raja Ambawang,” jelas Rais. Artinya, ketiga kerajaan itu memiliki ikatan darah dan sejarah yang tidak terpisahkan, tumbuh dari akar silsilah yang sama.

 

Menjaga Sejarah Tetap Hidup

Saat ini, Rais menerangkan, keberadaan Kerajaan Kubu lebih diarahkan pada pelestarian adat, budaya, sejarah, dan silsilah keluarga. Setelah Raja Kubu ketujuh, Sayid Syahril Al-Idrus, meninggal dunia, Rais menyebut dirinya saat ini dipercaya memegang peran sebagai pemangku kerajaan.

“Setelah Raja Kubu yang ketujuh meninggal, sementara saya yang memegang sebagai pemangku kerajaan,” ujarnya.

Namun bagi Rais, yang terpenting bukan sekadar gelar atau simbol kekuasaan, melainkan agar sejarah dan warisan budaya leluhur tidak hilang ditelan zaman. Berbagai dokumen, silsilah, dan catatan pun terus disusun dan didata sebagai bukti sejarah.

“Yang penting sejarahnya jangan sampai hilang. Adat, budaya, silsilah dan perjuangan para leluhur harus diketahui generasi berikutnya,” pungkas Rais.

Sejarah Kerajaan Kubu pun menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari kekayaan sejarah Nusantara — yang memperlihatkan bagaimana kedatangan seorang ulama penyebar Islam kemudian tumbuh menjadi kekuatan kerajaan, sekaligus menjadi benteng perlawanan dan ikatan persaudaraan yang melintasi wilayah dan generasi.(RDS)

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *